Sekitar
3,2 juta anak-anak di dunia menjadi korban bully (perundungan atau penggencetan)
dari teman-teman atau masyarakat di lingkungannya. Jika anak Anda sering
menjadi korban bully, perlu melakukan sesuatu untuk membantunya
menghadapi hal tersebut.
Ada banyak
cara untuk membantu anak korban bully. Namun beberapa hasil ilmiah
menunjukkan cara efektif dalam menghadapi hal tersebut.
Berikut
lima langkah yang bisa dilakukan orangtua yang anaknya sering di-bully berdasarkan saran psikolog.
1.
Identifikasi bahwa anak benar menjadi korban bully
Sebagai
orangtua tentu Anda paham betul perubahan yang terjadi pada anak. Ada
tanda-tanda yang diperlihatkan anak bahwa dirinya korban bully.
"Ada
banyak hal tanda, namun perubahan perilaku seperti menarik diri dari hubungan
sosial atau tidak ingin sekolah merupakan tanda mungkin dia menjadi korban bully," kata psikolog dari
Sheffield Hallam University, Inggris, Mark Heaton.
Tanda-tanda
lain seperti insomnia, sering sakit yang tidak diketahui penyebabnya, ada luka
di tubuh meski dia tidak menjelaskan asalnya. Bisa juga anak pura-pura
bertanya, 'Temanku di-bully, aku harus ngapain, Bu?'.
Psikolog
Natasha Devon menerangkan untuk mengetahui benar tidaknya anak menjadi korban bully, orangtua harus memiliki waktu
bersama lebih banyak dengan anak
Memahami bullying
2. Memahami bullying
Orangtua perlu mengetahui apakah anaknya
benar-benar menjadi korban bully atau sesuatu yang buruk tidak sengaja
dilakukan oleh temannya. Penggencean sendiri adalah suatu keadaan tidak
menyenangkan yang dilakukan oleh orang lain secara berulang dan dengan sengaja.
"Diskusikan dengan anak apa itu bully.
Jika mereka diganggu, padahal tidak melakukan kesalahan, seharusnya anak berhak
untuk tidak diganggu," kata Profesor Peter Smith dari University of
London.
Jangan dilawan kembali
3. Jangan dilawan kembali
Saat orangtua tahu anaknya dipukul atau dibentak
atau mengalami hal tidak menyenangkan lain pasti akan merasa sakit hati. Namun
bukan berarti orangtua boleh mengajarkan anak melawan temannya yang menggencet
dengan hal yang sama. Kekerasan bukanlah jalan keluar.
"Jadilah sosok orangtua yang tegas, tapi tidak
membuat situasi makin kacau," kata Profesor Boulton.
Dia juga
menyarankan agar orangtua mampu mengajarkan anak-anak agar berbuat tegas bila
ada orang yang melakukan perundungan padanya.
Mungkin
ada pikiran "Ah, biarin aja diganggu sampai capai". Menurut para
psikolog cara ini tidak mempan. "Beragam studi mengatakan respon pasif
tidak bermanfaat dalam hal ini," kata Profesor Boulton lagi.
4.
Laporkan
Jika anak
masih saja menjadi korban bully, bahkan makin parah, ada baiknya bertemu
dengan guru kelas seperti disarankan Profesor Smith.
"Jelaskan
masalah yang terjadi dan tanya mengenai kebijakan sekolahan mengenai kasus
tersebut," katanya.
Bisa saja sekolah langsung bertindak aktif, tapi tidak selalu.
Bisa saja sekolah langsung bertindak aktif, tapi tidak selalu.
